top of page

Seberapa Pentingkah Peran Orang Tua Mempengaruhi Anak dalam

Auditory-Verbal Therapy

 

Diterjemahkan Oleh

Inda Nur Farida, S. Psi.,

Dian Ratnasari, S. Psi., 

Rizki Lukitasari, S. Psi.,

dan Dini Kusumawati, S. Psi.

 

Saat orangtua memilih AVT untuk anak dan keluarga, itu berarti mereka telah 

berkomitmen terhadap perkembangan kemajuan anak mereka. Orangtua belajar 

untuk membuat setiap pengalaman sebagai kesempatan belajar bahasa dan 

mengajak yang lain untuk melakukan hal yang sama. Dalam AVT, orangtua berperan sebagai manajer utama bagi anak mereka. Orangtua belajar mempelajari tentang 

audiogram, amplifikasi, produksi kata, dan perkembangan bahasa. Orangtua menjadi pendukung yang PALING KUAT bagi anak dan meyakinkan yang lain bahwa anak 

mereka "BISA", ketika orang lain mengatakan "TIDAK BISA". Orangtua yang mengikuti AVT pasti ingin anak mereka menggunakan kemampuan mendengar dan gangguan 

pendengaran yang dialami hanya berdampak kecil bagi kehidupan sosial anak mereka.

Selama sesi AVT per-minggunya, orangtua mempelajari strategi-strategi penting untuk membantu anak mereka membangun 

kemampuan bahasabicara melalui pendengaran. Orangtua belajar strategi-strategi tersebut untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari 

agar anak menjadi pendengar yang aktif. Orangtua belajar untuk melihat anak mereka sebagai "anak dengan gangguan pendengaran" bukan

"gangguan pendengaran membatasi anak". Orangtua memiliki harapan yang tinggi pada anak mereka dapat mengembangkan kemampuan 

mendengar, bahasa, bicara, dan kognitif, begitu juga dengan perilaku sosialnya. 

 

Orangtua harus dapat mengatur perilaku anak mereka. Hal ini terlihat lebih sulit dibandingkan menghadapi anak dengan pendengaran normal. Dengan menerapkan pola asuh "TOUGH LOVE", yaitu tidak hanya sekedar memberikan kasih sayang namun juga menerapkan kedisiplinan pada anak, akan sangat membantu orang tua menyadari PENTINGNYA MANAJEMEN PERILAKU kepada setiap anak, khususnya bagi anak dengan 

gangguan pendengaran. Ketika anak tidak memiliki motivasi untuk belajar berbicara, itu sama saja memperkuat munculnya perilaku negatif, 

misalnya segala keinginannya harus dituruti, jika tidak dia akan berteriak dan menangis. Jika perilaku ini juga berkembang di sekolah, maka diaakan berkomunikasi dengan cara yang tidak diharapkan. Misalnya frustrasi, sedih, bahkan tantrum (mengamuk). Oleh karena itu, orangtua 

sangat membutuhkan manajemen perilaku serta menumbuhkan motivasi anak untuk mendengar dan berbicara. 

 

Hal-hal yang bisa dilakukan oleh orangtua agar anak mau mendengarkan, misalnya dapat dilakukan saat makan malam bersama keluarga. 

Sebelumnya komunikasikan kepada semua anggota keluarga bahwa mereka akan menerapkan manajemen perilaku pada anak. 

Misalnya: anak diberi makan sedikit terlebih dahulu, diharapkan anak akan meminta lagi dengan cara yang baik. Apabila dia memperlihatkan 

perilaku-perilaku negatif seperti berteriak atau membentak, maka semua anggota keluarga jangan memberikan respon. 

Kemudian anggota keluarga yang lain memberikan contoh bagaimana bahasa yang baik untuk meminta, dan lakukan pengulangan berkali-kali 

agar bermakna bagi anak. Dengan cara tersebut, diharapkan perilaku anak menjadi lebih baik, mau mendengarkan, dan berkomunikasi dengan bahasa bicara.

 

Orangtua yang mengikuti AVT, mempelajari bagaimana setiap peristiwa dalam kehidupan sehari-hari menjadi aktivitas untuk mendengarkan. 

Orangtua menyadarkan anak  bahwa dia harus memperhatikan dan mendengarkan stimulus suara. Orangtua yang mengikuti AVT memiliki 

harapan yang sangat tinggi dan mengharapkan anak mereka dapat mencapainya. Apabila orangtua berhasil menerapkan manajemen perilaku, maka mereka akan mendapatkan hasil yaitu anak yang aktif berbicara, bukan anak dengan gangguan dengar.

 

Orangtua yang mengikuti AVT belajar menjadi guru bahasa yang utama bagi anak mereka. Orangtua bekerjasama dengan terapis 

memanfaatkan setiap waktu untuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasa yang sebelumnya sudah ditargetkan. 

Orangtua dan terapis bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat formal seperti di dalam ruang terapi, atau melakukan aktifitas yang 

bersifat informal seperti melakukan rutinitas sehari-hari. Kebanyakan orangtua melakukan kombinasi dari keduanya, tergantung pada 

kebutuhan terbaik untuk anak mereka. Orangtua harus mengetahui target yang harus dicapai oleh anak mereka, hal ini bisa dilakukan melalui membuat "experience book" yang bisa dibagi kepada terapis, guru, teman, dan keluarga. 

 

Orangtua yang mengikuti AVT, orang tua memiliki impian untuk anak mereka dan mereka akan melalukan apapun untuk mewujudkan impian 

tersebut menjadi nyata. Orangtua harus menyadari bahwa ini adalah sebuah proses. Amplifikasi hanyalah awal, dan belajar untuk 

mendengarkan dan berbicara adalah sebuah perjalanan panjang dan penuh tantangan. ORANG TUA HARUS MENJADI PENDUKUNG, GURU, 

MANAJER UTAMA DAN PENYEMANGAT BAGI ANAKNYA. Orang tua harus akan menciptakan kesempatan berbahasa dan mengajak anggota 

keluarga yang lain untuk melakukan hal yang sama. Orangtua-orangtua yang mengikuti dan menerapkan AVT suatu hari akan mendapatkan imbalan yaitu anak mereka dapat mendengar dan berbicara 

untuk mengatakan "TERIMAKASIH AYAH DAN IBU. AKU SAYANG KALIAN"

 

 

Sumber Estabrooks, Warren. 2001. 50 FAQS About AVT. Canada: Learning to Listen Foundation.

 

 

bottom of page